Pedulian?
Ada anggapan orang Indonesia bahwa orang Barat itu tidak peduli. Mereka individualistis, mementingkan dirinya sendiri. Buktinya masalah pribadi, privacy, merupakan masalah terbesar. Memang benar bahwa bagi orang Barat, masalah pribadi adalah masalah pribadi dan bukan untuk diusik oleh orang lain. Akan tetapi masalah publik adalah masalah kita bersama. Mereka peduli dengan masalah publik. Menurut saya ini salah satu landasan kesuksesan dan ketertiban di dunia Barat sana. Mau bukti? Baik, kita lihat beberapa contoh.
- Suatu saat, ketika saya di Kanada, saya menumpang mobil seorang kawan. Kami berdua sedang melewati downtown tengah malam. Kawan saya melihat ada orang yang terlihat mencurigakan di depan kaca sebuah toko. Dia bilang bahwa kami harus berputar dan melihat orang itu mau ngapain. Saya katakan bahwa mengapa kita harus kesana? Toh ada polisi dan orang itu tampaknya besar badannya. Nah, kawan saya ini mengatakan bahwa kami dapat melakukan citizen arrest. Kendaran memang diputarnya kembali menuju toko tersebut. Orang tersebut lari. Kami tidak mengejar. Satu hal yang dapat saya pelajari dari kejadian ini, yaitu peduli! Kawan saya ini tidak kenal yang punya toko tapi dia peduli ketika toko orang tersebut ada kemungkinan dirusak oleh orang lain.
- Lagi-lagi cerita, kota tempat tinggal saya di Kanada terancam bajir bah yang datang dari arah Selatan. Air memang datang secara perlahan-lahan. Akan tetapi volume dari air tersebut sangat besar sehingga diperkirakan dapat menenggelamkan kota. Kota-kota di Selatan, di bagian Amerika, sudah terendam. Apa yang dilakukan warga setempat? Pemerintah mengorganisir usaha untuk mengurangi dampak dari banjir ini. Salah satunya adalah mengorganisir voluntir-voluntir. Waktu itu saya diajak kawan-kawan satu kantor untuk ikut voluntir. Jadi kami pergi ke community center dimana di sana tersedia tempat makan (bagi yang belum makan), tempat mengambil kaos tangan (karena waktu itu masih agak dingin), dan tempat untuk menaiki bis menuju tempat-tempat yang akan ditangani. Bis dipenuhi voluntir kemudian membawa saya ke Selatan, ke tempat yang akan diserang banjir. Kami ramai-ramai membuat “bendungan”, yaitu melingkari rumah seorang warga kota tersebut dengan kantong-kantong pasir (sandbag) dan plastik sehingga rumah tersebut akan terlindungi dari air yang datang. Nantinya rumah-rumah tersebut seperti pulau yang sekelilingnya digenangi air. Kami tidak kenal satu sama lain akan tetapi bersemangat untuk membantu. Kami tidak kenal pemilik rumah yang bersangkutan. Modal utamanya hanya satu: peduli.
- Di luar negeri juga ada gelandangan (homeless). Namun banyak tempat – umunya gereja – yang menyediakan tempat berteduh dan tidur malam hari (shelter) dan juga menyediakan makanan. Semuanya dijalankan oleh voluntir dengan sumbangan dari berbagai pihak. Ini juga menunjukkan kepedulian. Mereka tidak menunggu sampai ada dana dari pemerintah, atau menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada pemerintah. Mereka ikut turun tangan. Peduli.
Dari contoh-contoh di atas, yang memang dari luar negeri, sebetulnya kita bisa melakukan hal yang sama. Kita harus peduli.
Kepedulian bisa dimulai dari tingkatan individu dalam bentuk kegiatan sehari-hari yang tidak harus dikoordinir. Ini menjadi kebiasaan kita saja.
- Jika anda melihat paku di jalan, maka ambil paku itu dan buang di tempat yang aman agar kendaraan melewati jalan tersebut tidak bocor bannya. Ini peduli, meskipun anda tidak punya kendaraan bermotor.
- Ketika melihat air tetap mengucur dari keran air di tempat umum, di restoran, di kereta api, atau dimana saja, tutup keran air tersebut. Kita hemat air bersih.
- Ketika anda memakan permen dan ada bungkus permen yang ingin anda buang akan tetapi di dekat anda tidak ada tempat sampah, maka simpan dulu bungkus permen itu dalam saku anda sampai ada tempat sampah. Buang di tempat sampah.
- Kita gunakan plastik dan styrofoam sesedikit mungkin. Jika bisa, kita gunakan wadah yang mudah diterima oleh lingkungan seperti menggunakan daun pisang sebagai bungkus. (Bagaimana dengan besek? Apakah ini juga mudah diuraikan oleh alam?) Kita teliti alternatif apa saja yang bisa kita pilih.
Kesemua di atas termasuk peduli yang dilakukan secara individual.
Kepedulian bisa juga terorganisir. Gema Nusa, merupakan salah satu gerakan kepedulian yang terorganisir. Melihat adanya upaya-upaya seperti ini memberikan harapan bahwa Indonesia bisa maju. Masih ada banyak kegiatan yang terorganisir untuk peduli.
- Membuat iklan layanan masyarakat di radio atau TV yang isinya adalah anjuran untuk membuang sampah di tempatnya. Jangan membuang sampah di got, di sungai, di jalan.
- Membuat iklan layanan masyarakat yang isinya peduli. Peduli terhadap apa saja. Khususnya iklan yang ditujukan kepada anak-anak dan generasi muda. Sebab, mereka yang akan membentuk masa depan Indonesia. Jangan kita remehkan mereka.
Sayangnya kepedulian ini tidak murah. Dia membutuhkan biaya yang lebih mahal dan usaha lebih keras. Sebagai contoh, agar tidak menggunakan styrofoam, maka kita bisa menggunakan piring dan gelas. Tapi ini berarti kita harus membeli piring dan gelas. Harus ada investasi. Selain itu setelah selesai acara yang menggunakan piring dan gelas ini, kita harus mencucinya. Ini butuh usaha tambahan. Hal-hal semacam inilah yang biasanya menghambat kepedulian.
Untuk membuat iklan layanan masyarakat dibutuhkan biaya. Siapa yang mau menanggung? Semestinya ini dapat kita tanggung bersama-sama. Daripada kita sibuk sendiri-sendiri dan keluar biaya yang besar untuk mengajari anak cucu kita, mengapa tidak kita gabungkan kekuatan sehingga upaya-upaya tersebut bisa lebih langgeng?
Sebetulnya biaya dan tenaga yang keluar dalam rangka hidup yang lebih baik di kemudian hari itu bisa kita anggap sebagai investasi. Apa ada hidup lebih baik tanpa ada usaha?
Nah, sekarang tinggal anda pilih, mau peduli atau tidak?
Lets!






